Kamis, 29 November 2012

ANARKI = KEKACAUAN ?? ?


Apa itu anarkisme? Apa itu anarki? Siapa sih para anarkis itu?
-Anarkisme adalah sebuah ide tentang hidup dengan cara yang lebih baik. Sedangkan anarki adalah sebuah cara untuk hidup.
Anarkisme menganggap bahwa pemerintahan ( Negara) itu bukan saja tidak diperlukan, tapi juga berbahaya. Para anarkis adalah mereka yang mempercayai anarkisme dan memiliki hasrat untuk hidup didalam anarki sebagaimana yang pernah dilakukan oleh para leluhur kita dulu. Mereka yang mempercayai pemerintahan (seperti kaum Leberal, Marxis, Konservatif, Sosialis dan Fasis) dijuluki sebagai Statist.
Statis: mereka yang mempercayai bahwa otoritarianime itu perlu untuk mengorganisir masyarakat.
Awalnya anarkisme mungkin terkesan negatif karena posisinya yang mentah. Namun sebenarnya, para anarkis memiliki banyak ide positif mengenai hidup di dalam sebuah mayarakat tanpa pemerintah. Tidak seperti kaum Marxis, Liberal dan konservatif, mereka (kaum anarkis) tidak menawarkan sebuah cetak biru dari masyarakat.
Ps: Tidak menawarkan cetak biru, maksudnya mengajak masyarakat bersama-sama untuk mencari solusi dari perubahan sosial yang diinginkan.
Apakah para anarkis itu adalah “Bomb Thrower” (pelempar bom)?
-Tidak, setidaknya apabila kita membandingkan dengan Pemerintah Amerika Serikat yang lebih sering melempar bom ke Irak setiap harinya dibanding para anarkis didalam 150 tahun aktivitas gerakan mereka. Kenapa sih kita tidak pernah mendengar julukan presiden “pembunuh massal atau pelempar bom”? mana yang lebih berbahaya jika para anarkis yang melempar bom dengan kapasitas individual atau kekuatan militer yang vertikal dan dominan?
Kaum anarkis telah aktif bertahun-tahun diberbagai negara, dibawah pemerintahan otokratik sampai ke pemerintahan ‘demokratik’. Terkadang ketika berada didalam kondisi represif yang akut, beberapa anarkis merasa perlu untuk melempar bom. Namun banyak pengecualian untuk aksi semacam ini. Stereotip “anarkis pelempar bom” tersebut dibuat oleh para politisi dan jurnalis di akhir abad 19, dan sampai sekarang mereka masih sering menggunakannya (untuk menjelek-jelekan kaum anarkis), malah julukan tersebut merupakan sesuatu yang terlalu dilebih-lebihkan.
Apakah pernah ada tatanan masyarakat anarkis yang benar-benar bekerja?
-Ya, ribuan dari tatanan masyarakat anarkis penah bekerja. Pada permulaan sejuta tahun ataupun lebih, seluruh manusia hidup sebagai ‘hunter-gatherer’ (perkumpulan pemburu) didalam kelompok-kelompok kecil yang egaliter, tanpa campur tangan hirarki atau otoritas. Mereka ini adalah para leluhur kita. Mereka masyarakat anarkis pernah sukses, kalau tidak, cukup diragukan keseluruhan dari kita ekarang ada disini. Negara baru berumur beberapa ribu tahun, dan memakan waktu cukup lama bagi negara untuk menyingkirkan ‘masyarakat anarkis yang terakhir’, seperti para San (Bushmen), para orang-orang kerdil dan suku Aborigin Australia.
Tapi bukankah kita tidak dapat kembali ke dalam cara hidup semacam itu?
-Hampir semua kaum anarkis akan setuju dengan pendapat terebut. Namun bagi para anarkis, untuk mempelajari masyarakat semacam itu, dapat menjadi sebuah pembuka mata dimana kita dapat menyaring ide-ide mereka yang berguna seperti: kerjasama, individualisme, saling mengisi, canda-tawa dan sistem sukarela yang dipraktekkan oleh masyarakat tersebut. Ambil satu contoh, para anarkis dan ‘tribesmen’ (masyarakat suku) sering kali memiliki metode resolusi konflik yang sangat efektif termasuk perwakilan dan cara-cara informal yang tidak terikat. Metode-metode mereka seringkali berhasil daripada sistem legal kita, karena menurut mereka; keluarga, perhabatan, dan lingkungan para tetangga yang berselisih akan mencoba saling mendamaikan dan dibantu oleh kepercayaan serta simpati diantara mereka, lalu mencari resolusi yang masuk akal dari masalah yang dihadapi. Di tahun 1970an dan 80an, akademisi mengamati bahwa beberapa ahli mencoba menerapkan metode semacam ini kedalam sistem legal amerika. Namun secara alami penerapan ini pelan-pelan menghilang, karena metode semacam ini hanya dapat berhasil disebuah masyarakat yang bebas, tidak terbatasi oleh kapitalismedan sistem birokrasi yang rumit.
Para anarkis itu naif: mereka pikir sifat alami manusia itu pada dasarnya baik.
-Tidak seperti itu. Memang benar bahwa anarkis menolak ide-ide moral maupun dosa besar. Ide-ide semacam ini (dosa besar) berasal dari agama dimana kebanyakan orang tidak lagi mempercayainya. Tapi anarki tidak sepenuhnya percaya bahwa sifat alami manusia itu pada dasarnya baik. Mereka melihat manusia sebagaimana tindakan-nya. Kenyataannya adalah manusia bebas dari semacam ‘esensi’ (sifat alami). Kita yang hidup didalam kapitalisme dan sekutunya, yaitu negara, adalah orang-orang yang tidak memiliki kesempatan untuk menjadi apapun yang kita inginkan.
Meskipun seringkali kaum anarkis menunjukkan bentuk moral yang baik didalam masyarakat, anarkisme bukanlah doktrin pengorbanan diri, walau banyak dari para anarkis berjuang dan mati

dikarenakan apa yang mereka percayai. Para anarkis mempercayai bahwa memperjuangkan basis mendasar dari ide mereka akan menciptakan kehidupan yang lebih baik kepada semua orang.
Tapi bagaimana kamu mempercayai kalau orang-orang tidak akan saling merugikan/menyakiti satu sama lain tanpa adanya kendali Negara akan kejahatan?
-Apa bila kamu tidak percaya kalau orang-orang tidak akan merugikan/menyakiti satu sama lain, lalu bagaimana bisa kamu percaya kalau negara tidak akan merugikan kita semua? Apakah mereka yang berada di kekuasaan (DPR-MPR) adalah orang-orang yang tidak mementingkan diri sendiri, penuh dedikasi dan lebih terhormat dari orang-orang yang mereka kuasai, seperti masyarakat biasa? Semakinkamu memiliki kepercayaan dengan sesamamu, semakin banyak alasan bagimu untuk menjadi seorang anarkis. dibawah anarki, kekuasaan disebarkan dan dikurangi. Setiap orang memiliki satu, dan tidak satupun yang memiliki lebih. Dibawah Negara, kekuasaan di kosentrasikan, dan masyarakat tidak memiliki kendali sama sekali. Bentuk kekuasaan seperti apa yang akan kamu lawan?
Tapi, realistis ajalah, apa yang bisa terjadi kalau polisi itu enggak ada?
-Sebagaimana seorang anarkis Allen Thomton mengamati, “Bisnis polisi bukanlah untuk melindungi; binis mereka adalah balas dendam”. Mari lupakan Batman yang mengelilingi kota sambil memerangi kejahatan yang sedang terjadi. Patroli polisi tidak mencegah kejahatan atau menangkap kriminal. Ketika patroli polisi berhenti diam-diam di lingkungan masyarakat kota Jakarta, rating kejahatan berada di peringkat yang sama. Namu ketika masyarakat bersama-sama menjaga lingkungan mereka dan saling memperingati akan kejahatan, penjahat akan memilih lingkungan masyarakat yang hanya dijagai polisi. Bagi para kriminal daerah seperti itu tidak terlalu beresiko.
Tapi Negara modern telah sedemikian dalam terlibat didalam peraturan keseharian. Hampir di setiap aktifitas masyarakat memiliki hubungan dengan peraturan Negara.
-Memang benar, tapi ketika kamu memikirkannya lagi, kehidupan sehari-hari kita hampir semuanya adalah anarkis. cukup jarang kamu menemui polisi kecuali ketika mereka sedang menilangmu karena mengemudi terlalu cepat. Perencanaan sukarela dan saling mengerti hadir di hampir semua aktifitas. Sebagaimana anarkis Rudolf Rocker menulisnya: “Fakta bahwa di bawah depotisme pun hubungan personal manusia dengan sahabat-sahabatnya direncanakan dengan persetujuan yang bebas dan kerjasama yang solider, tanpa hubungan semacam ini kehidupan sosial tidak mungkin terjadi.
Kehidupan keluarga, aktifitas menukarkan barang, persahabatan, penyembahan, seks, dan waktu luang adalah anarkis. Bahkan ditempat kerja, yang dilihat oleh para anarkis sebagai bagian dari sistem pemerasan Negara, pekerja masih dapat bekerjasama secara diam-diam, terlepas dari genggaman bos, dengan tujuan untuk meminimalisir dan juga agar dapat cepat menyelesaikan pekerjaan. Beberapa orang mengatakan kalau anarki itu tidak bekerja. Namun segala hal yang dikerjakan Negara berada di dalam sebuah fondasi anarki, bahkan diwilayah ekonomi.
Bukankah para anarkis itu ateis? Kebanyakan orang bukanlah ateis.
-Kamu tidak perlu menjadi seorang ateis untuk menjadi anarkis. Anarkis menghargai semua kepercayaan pribadi individu. Secara historis, kebanyakan anarkis menjadi ateis karena institusi agama dalam sejarah selalu menjadi sekutu dari negara, dan juga karena (institusi agama) mencegah orang-orang berpikir untuk dirinya sendiri. Semua anarkis menolak semua aliansi tidak suci antara agama dan negara dimanapun itu, entah di Iran, Israel, ataupun di Amerika Serikat. Tapi ada juga anarkis-anarkis religius yang inspiratif seperti anarkis kristen (Leo Tolstoy, Dorothy Day), anarkis yahudi (Paul Goodman), anarkis muslim (Hakim Bey), dan para anarkis yang menganut pagan serta kepercayaan-kepercayaan relijius timur lainnya.
Budaya?
-Anarkisme selalu menjadi inspiratif bagi individu-individu kreatif yang memperkaya budaya. Penyair anarkis seperti Percy Bysshe Shelley, William Blake, Arthur Rimbaud dan Lawrence Ferlinghetti. Esais anarkis Amerika seperti Henry David Thoreau dan di abad 20 seperti si anarkis katolik Dorothy Day, Paul Goodman, dan Alex Comfort (The Joy of Sex). Ahli linguistic seperti Noam Chomsky, sejarawan seperti Howard Zinn, dan anthropologis A.R Radcliffe-Brown dan Pierre Clastres. Terlalu banyak sastrawan anarkis didalam daftar, mungkin yang lebih dikenal seperti Leo Tolstoy, Oskar Wilde, dan Mary Shelley (penulis Frankenstein). Pelukis anarkis seperti Gustav Courbet, Georges Seurat, Camille Pisarro, dan jackson Pollock. Anarkis-anarkis kreatif lainnya seperti musisi John Cage, John Lennon, dan band CRASS, dan masih banyak lagi.
Misalnya pendapatmu tepat bahwa anarki itu adalah sebuah cara hidup yang lebih baik daripada sistem (negara) yang ada sekarang ini, bagaimana kamu dapat menyingkirkannya apabila negara memang sekuat dan seberkuasa seperti yang kamu bilang tadi?
-Para anarkis selalu memikirkan pertanyaan seperti ini. Dan mereka tidak memiliki jawaban yang mudah. Di Spanyol, pada tahun 1936 kaum anarkis mencapai jumlah jutaan orang dan fasis Franco sedang mengusahakan kudeta, mereka (kaum anarkis) membantu pekerja mengambil alih pabrik-pabrik dan secara bersamaan melawan fasis di garis depan. Mereka juga membantu petani-petani membentuk kolektif-kolektif di desa-desa. Kaum anarkis juga melakukannya di Ukraina sekitar tahun 1918-1920, dimana mereka terpaksa harus melawan tentara Tsar dan Komunis bolshevik. Namun cara-cara tersebut bukan lagi cara yang akan digunakan kalau kita ingin menyingkirkan sistem di abad 21 ini.

Apabila mempertimbangkan revolusi-revolusi yang menyingkirkan komunisme di eropa bagian timur, banyak kekerasan dan kematian yang terjadi, kejadian ini melebihi negara-negara lainnya. Tapi apa yang dapat menurunkan para politisi, birokrat, dan jendral-jendral (musuh-musuh bersama yang kita hadapi) adalah ketika mayoritas dari populasi menolak untuk bekerja atau melakukan apapun yang akan membuat sistem yang sudah busuk ini untuk terus berjalan. Apa yang bisa dilakukan oleh pemimpin-pemempin negara ketika ini terjadi, menjatuhkan bom nuklir ke diri mereka sendiri? Membunuh semua pekerja yang bekerja demi kehidupan mereka?
Kebanyakan anarki telah lama mempercayai metode yang mereka sebut sebagai ‘pemogokan umum’ dapat menjadi bagian penting untuk menyingkirkan negara. Yaitu, penolakan atas kerja secara bersama-sama.
Jika kalian semua menentang pemerintahan, kalian pasti menentang demokrasi.
-Apabila demokrasi berarti masyarakat mengambil kendali atas hidup mereka sendiri, maka semua anarkis adalah, ebagaimana yang dikatakan eorang anarkis Amerika Benjamin Tucker sebagai, “demokrasi Jeffersonian yang tidak pengecut” (satu-satunya demokrat sejati). Namun yang ada sekarang bukanlah demokrasi sebenarnya. Di kehidupan nyata, sebagian orang (di Indonesia, hanya segelintir orang) memilih para politisi yang akan mengendalikan kehidupan kita dan membuat peraturan-peraturan dengan menggunakan birokrat-birokrat yang tidak memilih juga polisi untuk menjalankannya tanpa mempertimbangkan apakah mayoritas menyetujui atau tidak.
Sebagaimana yang pernah ditulis oleh filsuf Perancis Rosseau (bukan anarkis), di dalam demokrasi, masyarakat hanya bebas di saat mereka memilih, dan diwaktu-waktu selain pemilihan mereka adalah budak-budak pemerintah. Dan para politisi di kantor juga para birokrat biasanya berada didalam kendali yang kuat para pebisnis-pebisnis yang mempunyai kepentingan tertentu. Semua orang mengetahui fakta ini. Tapi sebagian orang terus menerus mendiamkannya karena mereka juga mendapatkan keuntungan dari para pemegang kekuasaan. Yang lain tetap mendiamkannya karena mereka tahu kalau protes itu sia-sia dan mereka beresiko di cap sebagai “ekstrimis” atau bahkan “anarkis” (!) jika memang seperti ini, demokrasi memang hebat ya!
Jadi, kalau kamu tidak memilih petugas pemerintahan untuk membuat keputusan, siapa yang akan melakukan hal tersebut? Jangan bilang kalau kamu akan mengatakan semua orang bebas melakukan apa saja yang mereka inginkan tanpa memper-timbangkan yang lain?
-Kaum anarkis memiliki banyak ide mengenai bagaimana keputuan akan diciptakan didalam sebuah masyarakat yang berifat sukarela dan kooperatif. Kebanyakan anarkis percaya kalau masyarakat seperti ini harus berbasis komunitas lokal yang cukup kecil agar orang-orang mengenal satu sama lain, atau setidaknya orang-orang akan menjalin pertalian seperti keluarga, bersahabat, dan berbagi pandangan maupun kepentingan satu dengan lainnya. Dan karena ini adalah sebuah komunitas lokal, masyarakat akan memiliki pengetahuan bersama atas komunitas dan lingkungan mereka. Mereka akan menyadari bahwa mereka harus hidup dengan konsekuensi atas keputusan yang mereka buat. Tidak seperti politisi dan birokrat yang memutuskannya untuk masyarakat (yang bahkan tidak mereka kenal).
Para anarkis percaya bahwa keputusan harus selalu dibuat didalam level sekecil mungkin. Setiap keputusan dimana para individu bisa memutuskannya untuk diri mereka sendiri, tanpa mencampuri keputusan individu lainnya yang juga harus membuat keputusan mereka sendiri. Setiap keputusan yang dibuat oleh kelompok kecil (seperti keluarga, kongregasi relijius, organ-pekerja, kelompok nelayan dan komunitas petani) sekali lagi adalah keputusan mereka sendiri dan tidak diperkenankan mencampuri keputusan kelompok yang lain. Keputusan-keputusan antar kelompok antar kelompok yang menyebabkan benturan yang signifikan, jika benar-benar dikawatirkan oleh semuanya, dapat membentuk sebuah dewan ekstra untuk bertemu dan menangani masalah.
Dewan komunitas semacam ini bukanlah legislator. Tidak ada satupun yang dipilih. Masyarakat harus berbicara untuk diri mereka sendiri. Dan ketika mereka akan membicarakan isu lebih spesifik disitu, mereka cukup sadar bahwa bagi mereka, menang bukanlah, sebagaimana yang dikatakan oleh pelatih grup sepak bola Vince Lombardi, “segala-galanya”. Mereka menginnginkan semua orang untuk menang. Mereka meng-hargai persahabatan mereka dengan tetangga. Yang harus mereka lakukan, pertama-tama, adalah mengurangi kesalahpahaman yang ada dan mengklarifikasi isu. Seringkali tindakan semacam ini sudah cukup untuk menghasilkan persetujuan. Jika memang itu tidak cukup, mereka dapat melakukan kompromi. Namun seringkali tindakan pertama sudah cukup. Jika memang tidak dapat berjalan sama sekali, dewan dapat menunda isu, selama isu ini tidak membutuhkan keputusan yang cepat, agar keseluruhan komunitas dapat merefleksikannya dan mendiskusikan masalah tersebut dipertemuan selanjutnya. Jika benar-benar gagal, komunitalah yang harus menentukan solusi apakah masih ada jalan antara mayoritas dan minoritas untuk sementara waktu. Keduanya harus mengajukan apa yang mereka inginkan mengenai hal tersebut.

PUNK ILEGAL #1, agustus 2009 / anarki
32
Apabila semua itu sedah dilakukan, dan memang gagal, jika masyarakat memiliki perbedaan isu yang tidak dapat disatukan, maka minoritas memiliki dua pilihan. Dapat bergabung dengan mayoritas, untuk kali ini, karena keharmonisan komunitas lebih penting dari isu yang di erjuangkan. Mungkin mayoritas dapat menego-siasikan keputusan minoritas mengenai hal lain. Jika ini gagal juga, dan jika isunya memang sangat penting bagi minoritas, solusi yang mungkin adalah memisahkan diri, seperti yang dilakukan negara-negara bagian Amerika (Connecticut, Rhode Island, Vermont, Kentucky, Maine, Utah, West Virginia, dan mungkin di daerah-daerah lain). Ini bukanlah kegagalan bagi anarki, karena komunikasi yang baru akan menciptakan kembali anarki, kalau memang yang diperdebatkan bukan lah masalah birokratisme dan otoritarianisme. Anarki bukanlah sistem yang sempurna hanya saja lebih baik dari yang lain.
Tapi bukankah kita tidak dapat memuaskan kepentingan dan kemauan kita pada level lokal saja?
-Mungkin tidak semuanya, tapi ada bukti arkeologi bahwa pernah terjadi perdagangan jarak jauh, lebih dari ratusan bahkan ribuan mil, di era prasejarah yang anarkis di Eropa. Masyarakat primitif anarkis pernah dikunjungi ahli anthropologi di abad 20, seperti kelompok pemburu San (Bushmen) dan suku Tribal Trobriand, yang melakukan perdagangan semacam ini dalam bentuk hubungan dagang antar individu, meskipun hubungan seperti ini lebih mendekati saling memberi daripada yang kita lihat sekarang sebagai kepentingan dagang. Anarki yang pernah di praktekkan tidak pernah bergantung pada self-sufisiensi (kemandirian) lokal yang total. Namun banyak dari anarkis modern menekankan bahwa komunitas dan daerah-daerah, harus bisa menjadi semandiri mungkin, agar tidak bergantung pada bagian luar yang jauh. Bahkan dengan teknologi modern, yang sering kali diciptakan untuk memperbesar pasar komersil dengan menghancurkan kemandirian, sebagaimana pemerintah dan korporasi selalu menginginkan lemahnya kemandirian lokal lebih dari yang kita tahu.
Satu definisi dari “anarki” adalah kekacauan. Bukankah seperti itu wajah anarki yang sebenar-nya—kekacauan?
-Pierre Joseph Proudhon, orang pertama yang mengaku dirinya anarkis, menulis bahwa “Kebebasan adalah ibu, bukanlah anak perempuan dari tatanan”. Tatanan anarkis lebih superior daripada tatanan negara karena anarki bukanlah sebuah sistem hukum yang kuersif, tatanan ini semudah bagaimana masyarakat dapat mengenal satu sama lain dan memutukan bagaimana mereka akan hidup bersama-sama. Tatanan anarkis berlandaskan persetujuan dan perspektif bersama. Kekacauan terjadi dimana-mana negara berada, maka tidak heran kalau kita selalu mendengar terjadinya peperangan dimana-mana. Peperangan terjadi karena kompetisi antar kekuasaan negara, dan para pendukung-pendukung perang adalah pemodal dunia yang selalu menginginkan dominasi ekonomi diseluruh bagian di dunia, dan ini membutuhkan teror militer yang keras terhadap masyarakat lokal. Kemiskinan, yang merupakan akibat dari masyarakat kelas-kelas, adalah bagian dari kekacauan itu sendiri.
Kapan sih filosofi anarkisme diformulasikan?
-Beberapa anarkis berpendapat bahwa ide-ide anarkis telah diekspresikan oleh Diogenes kaum Cynic pada peradaban Yunani Kuno, oleh Lao Tse di era China Kuno, dan beberapa mistik medieval juga selama abad 17 di Inggris ketika terjadi perang sipil. Namun anarkisme modern dimulai
dengan William Godwin dengan tulisannya Political Justice yang diterbitkan di Inggris di tahun 1793. Dibangkitkan kembali oleh Proudhon di tahun 1840 (dalam tulisan What is Property?). Dia menginspirasikan gerakan anarkis diantara pekerja-pekerja Perancis. Max Stimer dengan tulisan The Ego and His Own (1844) dipertimbangkan sebagai pencerahan dari egoisme yang menjadi basis mendasar nilai-nilai anarkis. Seorang Amerika, Josiah Warren, secara independen mencapai ide yang sama di jaman yang sama dan menginspirasikan sebuah gerakan berjumlah besar untuk mencapai komunitas utopian. Ide-ide anarkis dikembangkan oleh revolusioner Russia Mikhail Bakunin dan juga oleh ilmuwan Russia Peter Kropotkin. Para anarkis berharap ide-ide mereka berkembang seiring berubahnya dunia.
Para revolusioner ini terkesan mirip sekali dengan Komunisme, yang tidak diinginkan orang banyak.
-Kaum anarkis dan Marxis telah menjadi musuh semenjak tahun 1860. Meski dalam waktu tertentu mereka bekerjasama melawan musuh bersama-sama seperti Tsarist selama revolusi Russia dan fasis Spanyol, dan para Komunis selalu menghianati anarkis. Dari Karl Marx sampai Joseph Stalin, kaum Marxis selalu mencela anarkisme. Beberapa anarkis, pengikut Kropotkin, menjuluki diri mereka sebagai “komunis” namun bukan Komunis dengan “K” besar. Mereka membedakan komunisme yang mereka praktikan, yang diorganisasikan dari bawah—dari pengambil-alihan tanah, pengelolaan secara sukarela dan kerjasama komunitas lokal dimana orang-orang aling mengenal satu sama lain. Berbeda dengan komunisme yang dipaksa melalui negara, menasionalisasi tanah dan fasilitas produksi, menolak semua bentuk otonomi lokal, dan mereduksi para pekerja menjadi pegawai-pegawai negara. Singkatnya kaum Komunis Marxis ingin mengambil alih kekuasaan negara dan memerintahnya menurut komando ‘partai politik pekerja’ mereka, sedangkan kaum anarkis menginginkan kekuasaan berada ditangan seluruh masyarakat, dan bukannya segelintir orang, sekalipun itu mengatas-namakan partai kelas pekerja atau partai masyarakat. Apakah kedua sistem ini kurang berbeda?

Kaum anarkis menerima dan bahkan berpartisipasi didalam kejatuhan Komunisme Eropa. Beberapa anarkis dari luar Eropa membantu para oposisi blok timur (sebagaimana yang tidak pernah dilakukan oleh pemerintah Amerika) selama bertahun-tahun. Para anarkis sekarang justru banyak aktif di negara-negara bekas pendudukan Komunis. Kejatuhan Komunis memang banyak menjatuhkan kesan kaum kiri didunia, tapi tidak bagi kaum anarkis, banyak dari kaum anarkis sendiri tidak menganggap diri mereka sebagai orang kiri. Anarkis sudah ada sebelum Marxisme dan masih ada setelahnya.
Bukankah para anarkis menggunakan kekerasan?
-Kaum anarkis tidak sebrutal kaum demokrat, republikan, liberal dan konservatif. Orang-orang ini (kaum demokrat, liberal, konservatif) tampak tidak berbahaya karena mereka menggukanan negara untuk melaksanakan pekerjaan kotornya untuk melakukan kekerasan demi kepentingan mereka. Kekerasan tetaplah kekerasan. Menggunakan seragam atau mengibarkan sebuah bendera tidak dapat merubah devinisinya. Negara adalah devinisi dari kekerasan itu sendiri. Tanpa menggunakan kekerasan yang mereka gunakan kepada leluhur anarki kita para ‘hunter-gatherers’ (kelompok pemburu) dan petani, tidak akan pernah ada yang namanya negara sekarang ini. Beberapa anarkis memang menghalalkan kekerasan tapi semua bentuk negara melakukan kekerasan setiap harinya.
Sebagian anarkis, didalam tradisi Tolstoy, adalah pasifis dan secara prinsipnya menolak kekerasan. Tapi aksi langsung. Para anarkis percaya bahwa masyarakat (seluruh masyarakat) harus memutus-kan nasib mereka ketangan mereka sendiri, secara indifidu maupun kolektif, entah melakukan sesuatu yang legal ataupun ilegal, entah itu harus dicapai dengan kekerasan atau tanpa kekerasan.
Apa sih stuktur sosial sebenarnya dari sebuah masyarakat anarkis?
-Kebanyakan anarkis belum benar-benar “yakin”. Karena dunia akan menjadi sangat berbeda setelah pemerintahan telah dihapuskan.
Kaum anarkis tidak biasanya menawarkan cetak biru, tetapi mereka menawarkan cara-cara menuju hal tersebut. Mereka berpendapat bahwa ‘Mutual Aid’ (saling mengisi), kerjasama dibanding kompetisi, adalah basis yang utama didalam kehidupan sosial. Mereka adalah individualis didalam sudut pandang bahwa masyarakat ada untuk kepentingan individu, bukannya sebaliknya. Mereka menawarkan desentralisasi, yang berarti fondasi dari masyarakat haruslah lokal, komunitas yang berhubungan langung. Komunitas seperti ini lalu di federasikan (didalam hubungan saling menguntungkan) namun hanya untuk mengko-ordinasikan aktifitas-aktifitas yang bisa dikerjakan oleh komunitas lokal. Desentralisasi anarkis menciptakan struktur dari bawah keatas, bukannya dari atas kebawah seperti sekarang. Sekarang ini, semakin tinggi level dari pemerintahan, semakin besar kekuasaannya. Di bawah anarki, level tinggi dari organisasi bukanlah pemerintah sama sekali. Mereka tidak memiliki kekuatan koersif, dan semakin tinggi levelnya, semakin sedikit tanggung jawab yang akan dilegasikan ke mereka dari bawah. Namu tetap, para anarkis tetap waspada apabila federasi berubah menjadi birokratik dan statis. Kita semua utopian tapi realis. Karena itu kita harus memonitor federasi sedekat-dekatnya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Thomas Jefferson, “kewaspadaan yang abadi adalah harga dari kemerdekaan.”
Kata-kata akhir?
-Winston Churchill, seorang politisi alkoholik penyakitan dari Inggris dan seorang penjahat perang, pernah menulis bahwa “Demokrasi adalah sistem terburuk bagi pemerintah, kecuali untuk yang lainnya.” Anarki adalah sistem terburuk bagi pemerintah, kecuali untuk yang lainnya. Sejauh ini, semua peradaban (masyarakat negara) telah runtuh dan ditopang oleh masyarakat anarkis. Masyarakat negara tidak stabil secara inheren. Cepat atau lambat, peradaban kita juga akan runtuh. Tidaklah terlalu dini untuk mulai berpikir mengenai peganti dari masyarakat ini. Para anarkis telah memikirkannya lebih dari 200 tahun. Kami punya sebuah awal. Kami mengundangmu untuk mengeksplorasi ide-ide kami, dan untuk bergabung dengan kami didalam usaha untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik.